Minggu, 01 November 2015

Maafkan saya Pi



Maafkan saya Pi, hal ini masih membayangi saya. Kesalahan saya di masa lalu mengingatkan saya untuk tidak berbuat seperti itu lagi, pelajaran yang nyata dan begitu berkesan di hati sanubari saya. Ceritanya ketika kami sama-sama di organisasi OSIS di SMA. Panggil saja teman saya dengan panggilan Pi.
            Ceritanya seperti ini, suatu sabtu setelah selesai senam, saya mengumpulkan anggota OSIS lalu memberikan beberapa arahan. Begitulah di setiap hari sabtu, siswa diharuskan untuk senam bersama sebelum memulai kegiatan belajar.
            Di saat memberikan arahan, di depan anggota yang lain, saya menegur salah seorang pengurus inti (dia adalah Pi) karena saat itu tidak memakai seragam OSIS. Dia terlihat sedih pada saat itu. Setelah kejadian itu berlalu, saya terpikir akan hal itu. Kenapa saya sampai berbuat hal itu? Itulah yang ada di benak saya. Saat kita menegur seseorang di depan umum atau anggota yang lain, sebenarnya kita telah merendahkan dirinya, menjatuhkan harga dirinya di depan orang lain. Walaupun itu semua saya maksudkan agar semua pengurus inti mengenakan seragam OSIS untuk menjadi contoh bagi anggota yang lain.
            Sehingga saya menyadari bahwa niat baik sekalipun tanpa cara yang tepat, tidak akan baik akhirnya. Sampai  saat ini, saya belum bisa mengatakan minta maaf langsung tentang kejadian di waktu itu. Sebelum kita marah, sebaiknya kita dinginkan hati dan pikiran, kita bertanya terlebih dahulu apakah yang menyebabkan dia berbuat seperti itu. Tidaklah bijak menghukum seseorang tanpa kita ketahui apa yang sebenarnya terjadi.
            Pi, maafkan saya atas kesalahan saya di waktu itu. Semoga suatu saat kamu akan membaca apa yang telah saya tulis, saya menyesali hal itu. Selamat dan sukses untuk Pi. Sejak saat itu, ketika saya melihat hal yang kurang sesuai pada seorang teman atau siapapun, terlebih dahulu saya bicarakan empat mata dengannya untuk mengetahui sebenarnya apa yang telah terjadi.  Lalu sampaikan dengan baik apa yang menjadi harapan kita, berikan pengertian dan berdoalah semoga diri kita dan dia menjadi lebih baik.
            Alhamdulillah, saya telah memaafkan diri saya atas perbuatan saya di masa lampau. Kita harus menerima bahwa kita pernah berbuat salah dan berusaha sekuat hati dan tenaga untuk menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar