Minggu, 01 November 2015

Infocus yang datang terlambat




Kisah ini terjadi ketika saya berada di semester 10 perkuliahan saya. Saat itu saya mengambil perbaikan nilai untuk salah satu mata kuliah geoteknik, sebelumnya nilai saya masih C, berharap akan lebih dari nilai ini. Itulah kira-kira prolognya. Karena saya mahasiswa teknik, mengulang atau perbaikan nilai bukanlah hal yang aneh, bahkan beberapa mata kuliah sangat laris manis sampai harus menyiapkan empat kelas. Yang satu kelasnya untuk 40 orang mahasiswa.
Hidup di teknik itu keras, makanya hanya yang kuat dan bisa bertahan yang selesai sampai akhir. Saya sendiri menamatkan kuliah saya dalam masa 6 tahun 3 bulan, sekitar itu. Yang terpenting adalah bisa selesai dengan kepuasan hati.
Kembali ke mata kuliah mekanika tanah 2, saya duduk bersama adik tingkat saya yang mana mata kuliah ini adalah jatah mahasiswa angkatan 2010, sedangkan saya sendiri angkatan 2007. Pada hari itu, waktu utk masuk kelas sudah hampir sampai, namun belum ada komting yang membuka ruangan dan mengambil infocus untuk kuliah.
Melihat kondisi yang tak menguntungkan ini, saya berpikir seperti ini, daripada semua orang tidak jadi kuliah, lebih baik saya yang mengalah untuk mengambil kunci ruangan dan infocus ke prodi. Dan pula saya ingin menjaga perasaan dosen saya, kalau sampai tidak ada yang menyiapkan segala sesuatunya, saya khawatir dosen akan marah dan saya khawatir akan berakibat pada nilai kami nantinya. Jadi biarlah saya yang berkorban, saya sudah biasa menyiapkan ini dan itu.
Pada saat di kelas, bapak dosen agak marah dan menegur saya, kenapa saya yang harus mengambil kunci dan infocus. Namun,saya hanya berdiam saja. Lalu kami kuliah sampai waktu berakhir. Ketika hendak keluar kelas, seorang adik tingkat angkatan 2010 mengatakan “maaf ya Bang, kami tak menyangka kalau komting kami tidak datang hari ini, jadi kami tidak ada yang mengambil kunci dan infocus”. Saya mengatakan “tidak apa-apa, abang hanya tidak ingin kita yang sudah jauh jauh datang tidak jadi kuliah”. “maaf ya bang”, ujarnya lagi.
Lalu infocus dan kunci diamankan oleh dia, namanya Yuri kalau tidak salah. Tahukah apa hikmah yang terjadi setelah kejadian itu? Setelah kejadian itu, setiap masuk kelas, anak-anak angkatan 2010 di kelas kami akan menyiapkan segala sesuatunya dengan baik tanpa terlambat. Mungkin mereka malu kepada kakak tingkatnya. Tapi yang jelas, saya tidak perlu marah namun cukup dengan memberikan contoh kepada mereka dengan mengambil infocus dan kunci ruangan.
Sampai akhir semester, tak pernah lagi ada keterlambatan dan kelalaian. Saya menyadari bahwa memberikan contoh nyata dengan kita berbuat adalah hal yang baik untuk mendidik dan mengajak orang lain untuk berbuat. Jika kamu berjiwa besar, orang yang akan menghormati dan menghargai kebaikan anda. Kebesaran jiwa itu akan menular dan ditiru oleh orang-orang yang berjalan di jalan kebaikan.
            Jika anda seorang muslim, coba anda perhatikan hadits-hadits nabi Muhammad. Kebanyakan dalam hadits berbunyi, sesungguhnya kami melihat Rasulullah atau kami mendengar Rasulullah…… semua hal itu menujukkan kepada kita bahwa sebelum mengajak orang lain, kita terlebih dahulu yang berbuat, memberikan contoh berbuat sesuatu dengan istiqamah. Itulah dia makna menjadi tauladan yang baik. Siapapun juga bisa berbicara, namun bagaimana dengan berbuat sesuatu? Bisakah anda rutin melakukannya?
            Selain hal itu, Yuri dan kawan-kawannya mau berubah setelah kejadian itu. Hal itu mengajarkan kepada kita bahwa cukuplah sekali kita berbuat kesalahan dan tidak mengulang lagi di masa yang akan datang. Keledai saja tidak jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kalinya, cukuplah sekali saja keledai terjatuh ke dalam lubang.       
Yang terjadi pada saya mungkin juga terjadi pada anda, tapi bukan itu pointnya. Point pentingnya ialah apakah anda atau saya belajar dari apa yang telah terjadi. Sejarah mengajarkaan kita untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama seperti yang telah terjadi di masa lampau. Melalui sejarah kita belajar menjadi lebih bijak dan arif dalam menyikapi setiap kejadian dan masalah. Mengajak seseorang menuju kebaikan tidak hanya dengan kata-kata, namun bisa kita lakukan dengan menunjukkan dalam perbuatan. Sesungguhnya apa saja kebaikan yang kita lakukan akan dikatakan oleh orang lain, menjadi kata-kata yang baik dalam ucapan orang lain. Kebaikan itu mengalir di dalam ucapan orang-orang.
Jadi ingatlah kebaikan yang kita tanam akan berbuah kebaikan yang suatu saat akan datang menolong kita saat kita memerlukan bantuan, karena kita yakin bahwa ALLAH akan menolong kita asalkan kita ikhlas dalam berbuat kebaikan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar