Selasa, 30 Agustus 2016

Cita-Cita, My Ideals, My Dream InsyaALLAH Barokah



Bismillahirrahma nirrahim….

Kali ini di kesempatan ini saya akan bercerita tentang mimpi atau cita-cita saya dulu sekali saat saya masih kecil (sekitar umur 4 sampai dengan 5 tahun) sampai yang terjadi pada saat ini. dulu sekali saat berusia 4 sd 5 tahun, saya menonton film Si Doel Anak Sekolahan, saya melihat Si Doel ke rumah Sarah dan mainan adik sarah rusak, Si Doel yg merupakan calon Insinyur memperbaiki mainan itu. Wah, keren ya kalau jadi Insinyur, saya berpikir, memutuskan dan mengatakan kalau saya mau jadi insinyur agar bisa membantu nenek. Hanya itu yang ada di benak saya pada waktu itu, tidak terpikir mau jadi Insinyur akan seperti apa perjalanannya, rintangannya dan lainnya apapun itu tahapan prosesnya.
Itulah cita-cita saya saat berumur 5 tahun. Waktu berlalu sampai akhirnya saya masuk SD dan bersekolah, saya rasa saya masih ingin menjadi Insinyur saat itu. Berlanjut sampai ke MTsN. Saya mengikuti kegiatan pramuka, ketika kami berkumpul dengan Kakak Pembina, salah seorang diantaranya bertanya “ Apa cita-cita kamu? “, saya jawab “ Insinyur”. Sampai beberapa kali kami bertemu, sering ditanya, “ siapa yg cita-citanya Insinyur ?“ saya jawab “ siap saya Kak”.
Begitulah hal itu terjadi beberapa kali, terutama saat masih di kelas 1 dan 2 MTsN. Waktu berlalu dan berlanjut cerita di SMA. Di SMA saat kelas 1, saya menceritakan cita-cita saya adalah dokter di mata pelajaran bahasa Inggris. Namun lucunya saat di kelas 3 mata pelajaran Bahasa Indonesia, saya 10 tahun ke depan. Tahukah kamu apa yg saya tulis dan saya ceritakan?
Saya menceritakan bahwa saya akan menjadi Insinyur, saat malam begadang, istri akan menemani dan punya beberapa orang anak yang baik sholeh sholehah. Cerita itu mengundang tawa dan saya demam besoknya.
Tapi Ayah saya terutama, lebih menginginkan saya menjadi seorang dokter atau tenaga medis. Ya….begitulah harapan orang tua saya. Saya mengikuti PBUD ke UNRI utk program studi kedokteran dan teknik sipil, dan yang terjadi adalah saya failed (gagal) dan tidak lulus. Akhirnya saya mengambil jalur SPMB (tahun 2007 disebut itu), saya dibelikan buku-buku Bank Soal Tes SPMB. Saya berlatih, hari demi hari terus maju terus berlatih. Kalau orang lain BIMBEL, saya belajar sendiri saja. Paling tidak dengan begini bisa menghemat biaya, itulah yang ada di benak saya pada waktu itu.
Saya dan seorang teman berangkat ke Pekanbaru untuk mendaftar, saya ambil IPA dan teman saya IPA dan IPS. Menginap di rumah paman si teman ini. Alhamdulillah urusan lancar dan sukses. Kalau tidak salah seminggu sd dua minggu kemudian, kami ke Pekanbaru lagi untuk menghadapi ujian SPMB.
Sekitar sebulan kemudian hasil tes keluar dan cek nya dilakukan melalui Internet, saya masukkan no ujian saya dan keluar hasilnya saya lulus di program studi teknik sipil. Sebelum ujian SPMB, saya memilih program studi kedokteran sebagai pilihan pertama dan teknik sipil pilihan kedua. Alhamdulillah saya lulus, padahal banyak yg ikut tes namun tidak lulus, termasuk teman yg bersama ke Pekanbaru, apalagi saya menginap di rumah pamannya. Alhamdulillahirabbil a’lamin, begitulah jalan hidup ini. tak semua orang lulus SPMB dan kesuksesan hidup dan rezeki punya jalan yg bisa saja tak sejalan dengan pendidikan dan pangkat jabatan seseorang. Umur, rezeki, jodoh, itu semua sudah diatur dan punya ukurannya masing-masing.
Selanjutnya saya melanjutkan tahapan baru dalam hidup saya, saya kuliah selama kurang lebih 6 tahun 3 bulan, dan sah menyandang gelar ST (Sarjana Teknik) Teknik Sipil. Alhamdulillah, barakallah. Itulah jalan hidup saya, sekarang saya telah bekerja, dan pekerjaan saya pas dengan bidang ilmu saya, Alhamdulillahirabbil a’lamin. Karena banyak orang yang bekerja tidak sesuai bidang ilmunya.
Sekarang saya tak menyesali kenapa saya pintar dan encer matematika, saya sangat bersyukur kepada ALLAH SWT. Akhirnya saya menjadi Insinyur bukan? Walaupun sekarang ST. Alhamdulillah barakallah. Cita-cita yang muncul secara alami, saya ingin jadi Insinyur untuk menolong Nenek, akhinya lebih kurang 20 tahun kemudian menjadi nyata.
Mungkin, kalau saya tidak bisa menjadi dokter dan meraih gelarnya, mungkin adik – adik saya atau mungkin anak saya atau bisa saja saya akan menikahi seorang dokter. Mungkinkah? Wallahu A’lam bissawab. Cukuplah ALLAH tempat ku mengadu dan meminta.
Demikian sepotong bagian kisah hidup saya, apapun itu jika ada hikmahnya semoga berkah untuk kita semua. Dan saya rasa anda juga mungkin punya cerita untuk dibagikan. Demikian, mohon maaf atas khilaf dan salah, Assalamu alaikum warahmatullahi wabarakatuh

 (Muhammad Akbar Muttaqin, 30 Agustus 2016 12:22 pm)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar