Rabu, 30 Desember 2015

The first contact



           Semua kisah punya permulaan, sesuatu yang memulai peristiwa. Kisah ku dengan nya, dimulai dari isu/gossip/kabar angina mahasiswa PBUD. Inti dari gossip itu ialah, “wah, kita sekelas dengannya, dia pelit, tidak mau memberi contekan saat ujian”. Itulah yang saya dengar dari orang lain tentangnya. Lalu pertanyaan muncul di benak saya, “apakah iya?”.
            Bermula dari pertanyaan itu, rasa keingintahuan saya bangkit dan saya putuskan untuk mencari tahu apakah itu benar. Lalu, di kelas saya bertanya kepadanya tentang tugas atau pengetian yang berhubungan dengan materi matematika (kalau tidak salah begitu). Ia menjawabnya dengan ringkas namun saya cukup mengerti. Jadi saya berkata dalam hati (“dia baik, mau memberikan penjelasan pada siapa yang bertanya”). Akhirnya saya putuskan bahwa yang dikatakan orang tak sepenuhnya benar.
            Setelah saya melihat dia saat ujian, dia duduk meja paling depan dan ujian sendiri tanpa melihat kesana kemari, dia tak berpikir untuk mencontek. Orang seperti ini yang saya senangi, kenapa begitu? Karena jujur saya sendiri pun memilih jalan yang sama, saya ingin ujian sendiri tanpa berniat mencontek, dan duduk di meja paling depan. Hanya saja, dia wanita yang lebih keras, sedangkan saya mungkin bisa lebih melunak.
            Saya tak perlu mengatakan, cukup perbuatan yang berbicara. Sejak saat itu (melihat dia saat quiz, ujian) saya merasa bahwa ada orang yang seperti saya. Pada masa-masa itu (minggu 1 sd 4 sejak perkuliahan perdana), dia dekat dengan seorang yang bernama HS, kemana-mana mereka berdua karena sama-sama mahasiswa PBUD, sedangkan saya lulus SPMB.
            Itulah kontak pertama (the first contact) saya dengannya. Segala sesuatu kadang hanya bermula dari rasa ingin tahu, lalu saya membuktikannya dan saya senang, puas dan bahagia akhirnya. Itulah kisah yang membuka cerita-cerita lainnya, bersama dirinya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar