Rabu, 30 Desember 2015

Aku, kamu dan Sepeda motorku



            Kembali berkisah tentang nya (namanya belum bisa saya sebutkan, jadi saya beri inisial Aling) suatu ketika, di suatu sore, sepulang dari kampus. Saat itu ia (aling) sedang mencari oplet (angkot) untuk pulang ke kos. Namun ternyata sudah tak ada, akhirnya dia berjalan kaki. Saya pulang di belakangnya, ketika sampai di jalan bina widya ternyata ia masih berjalan di trotoar. Saya lalu menyapanya, dan kami ngobrol. Saya menawarkan diri untuk memboncengnya, namun dia menolak dan mengatakan bahwa tak pernah seorangpun laki-laki pernah memboncenginya, kecuali keluarganya (ayahnya mungkin). Jadi akhirnya karena tak tega melihat seorang perempuan berjalan sendiri, akhirnya saya memutuskan untuk mendorong sepeda motor saya dan menemaninya sampai ke depan gang kos nya.
            Saya tak mengerti kenapa saya mesti, tapi ya seperti itulah kenyataannya. Motor yang baik-baik saja, saya dorong di sampingnya. Kami beriringan sampai ke depan gang kosnya. Tak lama mendorong sepeda motor, seorang teman (mahasiswa Teknik mesin) menyapa saya, “hai Bar, kenapa motornya? Mogok?”. Saya menjawab “tidak apa-apa, motornya tidak apa-apa”. Teman menjawab “ok Bar!”. Saya dan dia hanya tersenyum. Lalu saya dan dia terus berjalan sampai pas di depan gang kosnya.
            Setelah ia menyeberang dan tak terlihat lagi dari pandangan saya, barulah saya menunggang sepeda motor astrea grand saya untuk pulang ke kos. Lumayan lah untuk menambah keringat di sore hari. Tapi, entah kenapa saya mesti berbuat seperti itu. Tapi saya senang dan saya bahagia, jika belum ada orang yang mau menjadi teman dekatnya, biarlah saya yang melakukannya. Apakah saya telah berbuat sesuatu yang romantis? Cukuplah anda yang menjawabnya.
            Sepanjang jalan itu ada aku, kamu dan sepeda motorku.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar